Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

PIAGAM GUMI SASAK, LUAR BIASA!

Gambar
Piagam Gumi Sasak Piagam gumi sasak terbentuk pada tahun 2015, merupakan hasil perundingan dari para tokoh-tokoh asli suku sasak.  Munculnya piagam gumi sasak di latarbelakangi oleh fenomena-fenomena kebudayaan yang mulai tercemar oleh kemajuan zaman yang sebelumnya tidak di filterasi. Harapan di bentuknya piagam gumi sasak sendiri adalah untuk membangunkan, dan membakar semangat para warga sasak khususnya pemuda sebagai generasi penerus untuk berjuang bersama-sama menegakkan marwah kebudayaan sasak, marwah bangsa sasak terhadap globalisasi dan pengaruh dari luar. Sehingga untuk kedepannya kita sebagai suku sasak memiliki semangat untuk membangun citra sejati  bangsa sasak baru, artinya meluruskan atau mengembalikan kebudayaan yang memang budaya asli warisan leluhur nenek moyang. Sebagaimana yang tercantum dalam isi Piagam Gumi Sasak sebagai berikut: Pertama: Berjuang bersama menggali dan  menegakkan jati diri bangsa sasak demi kedaulatan dan kehormatan buda...

Penyembe

Gambar
Penyembe Masyarakat desa Sade masih melestarikan warisan para leluhur yaitu 'penyembe' namanya. Yang mana ‘penyembe’ ini salah satu tradisi yang digunakan pada ritual-ritual tertentu. Merupakan penerang dalam gelapnya malam yang penuh rasa dan makna, menyala ketika terik hingga fajar menyapa, dengan berbahan bakar minyak kelapa, dengan wadah kerang yang disematkan pada bambu tua, bertengger depan rumah para warga. Saya mendeskripsikan 'penyembe' sebagai cahaya. Karena layaknya cahaya yang sebagai penerang, yang mampu mengaktifkan indara penglihatan, memberikan kehangatan, keamanan, dan kenyamanan pada jiwa yang takut akan gelapnya ruang dan malam.

Nyongkolan Ritual Kebudayaan Suku Sasak

Nyongkolan Ritual Kebudayaan Suku Sasak, Lombok Nyongkolan adalah sebuah tradisi lokal suku Sasak, Lombok. Sepasang pengantin di arak beramai-ramai seperti seorang raja menuju rumah/kediaman sang pengantin wanita. Arak-arakan ini selalu diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta diramaikan dengan beraneka tetabuhan alat musik tradisional dan kesenian khas suku Sasak, seperti gamelan, kelompok penabuh rebana, atau disertai gendang beleq. Tujuannya agar para warga sekitar mengetahui bahwa pasangan pengantin tersebut sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Menurut kepercayaan lama yang masih berkembang dan turun temurun, jika tradisi nyongkolan tidak digelar setelah prosesi akad nikah sang pengantin, maka rumah tangga pengantin tersebut tidak akan bertahan lama atau keturunan dari pasangan pengantin ini biasanya akan terlahir dalam kondisi cacat fisik. Namun prosesi nyongkolan kini sering kali menyimpang dari tata krama budaya luhur adat sasak yang sej...